
Penghancur Mimpi
Ada berbagai tipe kepribadian orang dalam masyarakat ketika berusaha mencapai apa yang diinginkan atau dicita-citakannya.
Secara umum, orang-orang ini dibagi menjadi 2 kelompok, pekerja keras dan yang maunya mudah saja. Seperti labelnya sendiri, kita dapat menerka bahwa pekerja keras adalah orang yang mengerahkan segala kemampuan dan jerih payahnya untuk meraih sesuatu. Sebaliknya dengan kelompok yang kedua, mungkin cara yang dipakai tidak terlalu memandang etika yang ada tetapi bisa jadi menghalalkan segala cara untuk keberhasilannya termasuk kecurangan.
Tipe pekerja keras di sini tidak memandang apakah orang bersangkutan memiliki bakat atau kemampuan yang mumpuni; sesuatu yang mendukung tercapainya mimpi yang diidamkan. Hal yang pasti dapat kita ketahui adalah ia sudah berusaha dengan jujur. Namun, kembali lagi tentu usaha yang dikerahkan akan berbeda jika orang A memiliki bakat daripada B yang tidak; menjadikan A lebih unggul dari B. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa, lagi-lagi, ukuran kerja keras itu relatif.
Nah, kita tidak bisa memungkiri bahwa sebaik apapun kita merencanakan sesuatu, apabila Tuhan berencana, segala sesuatu yang kita tidak pernah pikirkan dapat terjadi. Kalau pun tidak memasukkan faktor Ilahi, ada juga yang biasa disebut faktor keberuntungan. Begitu halnya dalam meraih impian.
Si pekerja keras dapat saja kalah oleh si yang maunya mudah saja. Bayangkan apabila hal ini terjadi pada kalian. Mungkin kita pernah mengalaminya seperti dalam hal mendapat promosi atau jabatan dalam pekerjaan dan organisasi, credits atas tugas yang dikerjakan (pasti sering, dong, kalau pada pelajar/mahasiswa), perlombaan tertentu, juara kelas, mahasiswa berprestasi, dan masih banyak lagi hal yang menjadi contoh dalam dunia nyata.
Sebagai si pekerja keras, tentu tidak adil bagi kita yang merasa ada pada posisi ini. "Bagaimana bisa kita yang sudah berjerih lelah kalah dengan orang yang bahkan tidak berkeringat sedikitpun dalam mencapai posisi kita saat ini?" "Dia berhasil mendapatkannya dengan cara curang, seharusnya aku yang lebih berhak." "Seharusnya aku yang pantas mendapatkan posisi tersebut." Tak jarang juga kita merasa kita lebih pantas semata-mata kita bekerja lebih daripada orang lain. Mereka hanya sedang "hoki" begitulah istilahnya. Penghancur mimpi, begitulah. Apa yang telah dikerjakan terasa sia-sia. Sampai-sampai kita takut untuk mencoba lagi, rasanya ingin menyerah saja.
Aku merasakan hal ini ketika mengetahui bahwa aku gagal diterima di jalur tanpa tes di jurusan tertentu universitas yang kuinginkan. Memang jurusan tersebut termasuk favorit dan memiliki banyak peminat. Aku sendiri sudah berusaha mengumpulkan sertifikat yang, konon katanya sih, berpengaruh besar dalam pemilihan siswa yang dipilih di jalur tersebut. Tapi apa daya usahaku selama 3 tahun di bangku SMA terasa sia-sia waktu mengetahui aku tidak diterima. Rasa curiga mulai muncul apakah ada kecurangan dalam prosedur seleksi.
Dalam usaha perenunganku mengenai mengapa aku tidak berhasil, aku berbicara dengan seorang kakak kelas yang saat ini berada di bangku kuliah semeter 4. Ia mengingatkan bahwa pada suatu titik tertentu kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, apapun posisi kita.
Itu bukan sebuah kebanggaan untuk dia, kok (kalau memang dia curang). Lebih baik kuliah di *** dengan jalan yang benar dengan keseriusan.Begitu ia sampaikan padaku. Kata-kata itu mengingatkanku bahwa yang terpenting adalah value yang kudapat saat dalam proses usaha mencapai apa yang kuinginkan. Aku mengerti sulitnya mendapatkan sesuatu sehingga pada saat aku nantinya berhasil aku tidak akan berleha-leha dengan kesuksesanku, malahan aku akan bersyukur karena aku telah mencapai titik tersebut dalam perjalananku. Aku akan menjaga dengan baik dan bertanggung jawab dengan apa yang telah kuusahakan dengan amat keras.
Setelah mengalami kegagalan tersebut, aku pun memilih untuk mengambil jalur yang lebih sulit yaitu jalur tes. Memang usaha yang dikerahkan lebih besar. Selama proses tersebut aku banyak berdoa bahkan sampai menangis. Aku harus mengikuti LBB setiap harinya dan belajar setelah pulang dari LBB hingga pukul 1 pagi. Aku mengorbankan banyak hiburan, tidak bermain dan nonton TV selama sebulan.
Aku melakukan hal tersebut karena prinsip yang aku berusaha ingat, yaitu aku harus berusaha bukan 2 kali atau 5 kali lebih keras dari orang lain. Aku harus berusaha 100 bahkan 1000 kali lebih keras daripada orang lain, namun dengan batasan sesuai kemampuanku.
Ingat, seperti di awal telah disebut, ukuran kerja keras itu relatif bergantung pada bakat dan kemampuan setiap orang.Mengingat adanya relativitas ini, ketika pada satu titik kita mengalami kegagalan, kita tidak boleh langsung menilai bahwa kita sudah bekerja lebih keras daripada orang lain, kenapa orang tersebut malah lebih berhasil daripada kita? Kita seharusnya kembali pada diri; kembali melihat diri sendiri dan bukan orang lain. Apa benar kita telah berusaha lebih keras daripada orang lain? Apa yang menyebabkan diri kita gagal dibanding mereka?
Tidak sepantasnya kita serta-merta menyalahkan keadaan ketika masalah yang ada justru pada diri kita. Kita juga harus selalu ingat untuk mengobservasi dan mengintrospeksi diri agar ke depannya bukan lagi situasi yang sama yang kita alami, yaitu kegagalan; tetapi kita akhirnya akan berhasil. Apa yang kurang pada diriku? Apakah benar ini bidang yang tepat bagiku? Apakah ada peluang lain yang memungkinkanku untuk berhasil?
Jadi, mungkin buat teman-teman yang mengalami kegagalan dalam hidup, jangan berputus asa lebih dahulu. Banyak hikmah yang kita bisa ambil dari suatu kegagalan. Semuanya itu adalah proses yang mendewasakan kita agar kelak kita bisa jadi orang yang rendah hati dan tahu untuk bersyukur ke depannya.

No comments:
Post a Comment